Post Top Ad

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Post Top Ad

Jumat, 02 Desember 2016

Konsep Dasar dan Teori Perkembangan

sumber: hipwee.com
A. Pendahuluan
              Manusia sebagai makhluk terbaik yang Tuhan ciptakan memiliki dua potensi sebagai modal utama menjalankan tugas kekhalifahan di bumi, yaitu potensi jasmani dan rohani. Berangkat dari kedua potensi tersebut, seorang manusia dapat tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan adalah perkembangan merupakan gejala perubahan dalam tubuh manusia, baik yang bersifat kuantitatif, maupun kualitatif[1].

              Perkembangan, sebagaimana yang menjadi objek bahasan dalam tulisan ini, memiliki beberapa konsep dasar dan teori-teori yang beragam, tergantung pada sudut pandang dan keilmuan para tokoh pencetusnya. Para ahli psikologi mencoba mengungkapkan berbagai konsepsi yang menggambarkan mekanisme perubahan yang dialami manusia sepanjang masa perkembangannya. Masing-masing konsep dan teori yang dikemukakan mempunyai asumsi dan cara pandang yang berbeda, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk sepenuhnya mengikuti salah satu konsep dan teori secara murni, mengingat tidak ada konsep dan teori yang berlaku obyektif untuk semua kondisi perkembangan manusia.
              Secara umum, dapat diartikan bahwa perkembangan merupakan pola perubahan yang dimulai pada saat konsepsi (pembuahan) dan berlanjut di sepanjang rentang kehidupan[2]. Hal tersebut menujukkan bahwa ada beberapa unsur dalam diri manusia yang senantiasa mengalami perubahan-perubahan, baik yang bersifat sistematis (berkesinambungan dan terorganisir) atau adaftif (penyesuaian dengan kondisi-kondisi tertentu.
B. Konsep Dasar Perkembangan
     1.  Pertumbuhan
                   Pertumbahan merupakan salah satu dimensi yang terdapat dalam konsep perkembangan. Pertumbungan (growth) pada hakikatnya merupakan sebuah gerak perubahan ukuran yang bersifat biologis, karena istilah pertumbuhan memang lazim digunakan dalam ilmu biologi.
                   Secara sederhana, pertumbuhan dalam konteks perkembangan, dapat didefinisikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan sebagainya[3]. Dengan demikian, tidak tepat jika dikatan pertumbuhan ingatan, pertumbuhan berpikir, pertumbuhan kecerdasan dan sejeninya, sebab semuanya merupakan perubahan fungsi-fungsi rohaniyah.
     2.  Kematangan
                   Berdasarkan hasil penelitian dan kajian-kajian empirik, dapat diketahui bahwa pertumbuhan dan perkembangan pada umumnya berjalan selaras dan pada tahap-tahap tertentu menghasilkan suatu “kematangan”, baik kematangan jasmani maupun kematangan mental (rohani)[4].
                   Kematangan mula-mula merupakan suatu hasil dari pada adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktur pada diri individu. Seperti adanya kemaangan jaringan-jarigan tubuh, syaraf, dan kelenjar-kelenjar yang disebut dengan kematangan biologis. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis yang meliputi keadaan berpikir, rasa, kemauan, dan lain-lain, serta kematangan pada aspek psikis ini yang memerlukan latihan-latihan tertentu.
                   Jadi, kematangan itu sebenarnya merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu.
     3.  Perubahan
                   Perkembangan mengandung perubahan-perubahan, tetapi bukan berarti setiap perubahan bermakna perkembangan. Perubahan-perubahan tidak harus selalu mempengaruhi proses perkembangan seseorang secara simultan dan otomatis. Perubahan-perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, realisasi diri atau yang biasanya disebut “aktualisasi diri” merupakan faktor yang sangat penting[5]. Tujuan ini dianggap suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat, untuk menjadi manusia seperti yang diinginkan baik secara fisik maupun psikis
                   Realisasi diri memainkan peranan penting dalam kesehatan jiwa seseorang. Orang yang menyesuaikan diri dengan baik secara pribadi dan sosial, akan mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan minat dan keinginannya dengan cara-cara yang memuaskan dirinya. Namun pada saat yang sama, ia harus menyesuaikan dengan standar-standar yang diakui bersama, kurangnya kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, akan menimbulkan kekecewaan dan sikap-sikap negatif terhadap orang lain, serta terhadap kehidupan pada umumnya.
C. Teori Perkembangan
              Terdapat sejumlah teori perkembangan yang dicetuskan oleh beberapa tokoh psikologi, di antaranya adalah :
     1.  Teori Psikoanalisis
                   Teori ini diperkenalkan oleh Sigmund Freud yang menunjukkan bahwa perkembangan jiwa (perilaku) manusia merupakan hasil interaksi dari tiga sub-sistem dalam kepribadian manusia: id, ego dan superego[6]. Berdasarkan teori ini, jiwa manusia memiliki struktur yang utuh dan membentuk satu kesatuan yang paten, bukan sebagai unsur yang terpisah-pisah.
                   Id, sebagai bagian dari struktur jiwa, merupakan wilayah kepribadian yang menampung dorongan-doronan bilogis, baik yang bersifat kontruktif (libido/eros), atau yang bersifat destruktif (thanaos). Sub-sistem kedua, ego, berfungsi menjembatani antara tuntunan id dengan realitas di luar melalui jalinan yang rasional. Sedangkan superego, merupakan hati nurani yang merupakan internalisasi norma-norma sosial dan kultural masyarakat, sehingga ia mewakili hal yang ideal.
     2.  Teori Perkembangan Kognitif
                   Teori ini ditemukan dan diperkenal oleh Pakar psikologi Swiss terkenal Jean Piaget (1896-1980), yang mengatakan bahwa cara anak mempelajari, mengingat, mendengar, dan menamati dunia di sekitar mereka tidaklah pasif: mereka memiliki rasa ingin tahu mengena dunia di sekitar mereka dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami serta mengerti situasi di sekita mereka[7]. Dengan kata lain, anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri, sehingga pengetahuan bukan hanya berupa informasi yang sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan, tanpa melalui proses pengulahan secara kognisi.
                   Lebih lanjut, Piaget mengungkapkan bahwa dalam diri makhluk hidup terdapat pola perilaku yang terorganisasikan dengan baik yang disebut skema. Skema tersebut disesuaikan dengan lingkungannya melalui 2 cara, ialah: asimilasi dalam bentuk mempersepsi dan menafsir informasi dari lingkungannya sebagai bentuk pengetahuan baru, dan akomodasi dalam bentuk restrukturisasi organisasi mental agar informasi yang baru tersebut dapat diterima[8].
                   Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Akomodasi terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan inforrmasi baru. Perhatikan suatu keadaan di mana seorang anak perempuan berusia 7 tahun diberi palu dan paku untuk menggantung gambar di dinding. Ia belum pernah menggunakan palu, tetapi dari pengamatan dan pengalaman orang lain ia mengetahui bahwa palu adalah obyek yang harus dipegang, yang diayun dengan tangkai untuk memukul paku, dan yang biasanya diayun beberapa kali. Dengan mengenal kedua benda itu, ia menyesuaikan perilakunya dengan informasi yang sudah ia miliki (asimilasi). Akan tetapi, palu berat, sehingga ia memegangnya di bagian ujung. Ia mengayun terlalu keras dan paku bengkok, sehingga ia menyesuaikan tekanan pukulannya. Penyesuaian ini memperlihatkan kemampuannya untuk sedikit mengubah konsepnya tentang dunia (akomodasi).
     3. Teori Belajar (Konsepsi Asosiasi)
                   Inti dari konsepsi asosiasi adalah bahwa hakekat perkembangan adalah proses asosiasi, dimana bagian-bagian mempunyai nilai yang lebih penting dari keseluruhan. Dalam perkembangannya anak-anak pada mulanya mempunyai kesan sebagian-sebagian, kemudian melalui proses asosiasi bagian-bagian tersebut akan membentuk menjadi suatu keseluruhan. Banyak tokoh terkenal penganut konsepsi ini diantaranya yaitu: John locke (dengan teori tabularasa), Thorndike (denga teori conectionisme), J.B Watson dengan Teori Behaviriosme, dan Ivan Pavlov dengan teori Conditiononing Reflect.
                   Menurut Ivan Pavlov (1849-1936), proses pembelajaran terjadi ketika sebuah stimulus netral (stimulus yang belum menghasilkan respon tertentu) dipasangkan secara teratur dengan sebuah stimulus tidak terkondisi selama beberapa kali (berulang-ulang)[9]. Stimulus netral akan berubah menjadi stimulus yang terkondisi, yang kemudian menghasilkan sebuah proses pembelajaran atau respon terkondisi, yang biasanya serupa dengan respons alamiah yang tidak perlu dipelajari.
D. Penutup
              Perkembangan merupakan proses perubahan-perubahan dalam diri individu di sepanjang kehidupannya, yang bersifat kualitatif dan dnyatakan dalam bentuk verbal. Teori dasar yang berkaitan dengan perkembangan adalah pertumbuhan, kematangan dan perubahan, sedangkan teori-teori perkembangan, yang paling penting di antaranya adalah teori psikoanalisis, teori kognitif dan teori belajar.

E. Daftar Pustaka
Baharuddin. 2010. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Hildayati, RIni. 2013. Psikologi Perkembangan Anak. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Latipah, Eva. 2012. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pedagogia
Mu’in, Fatchul. 2011. Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media



[1] Baharuddin, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hal. 65
[2] Rini Hildayati, Psikologi Perkembangan Anak, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2013), hal. 3
[3] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 10
[4] Ibid. hal. 11
[5] Ibid. hal. 13
[6] Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 182
[7] Rini Hildayani, ………….. Hal. 64
[8] Ibid. Hal. 66
[9] Eva Latipah, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pedagogia, 2012), hal. 72

Tidak ada komentar:

Posting Komentar